| Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |   | Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |

Ketika Peternakan Sapi Perah Nasional di Tangan Generasi Milenial

Ketika Peternakan Sapi Perah Nasional di Tangan Generasi Milenial

Masa Depan Peternakan Sapi Perah di Tangan Generasi Milenial. Itulah tema webinar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Peternakan Politeknik Pembangunan Pertanian Malang (Polbangtan Malang), Rabu (17/2/2021).

Sekitar 500 orang mengikuti seminar virtual itu. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa Polbangtan yang tersebar di Indonesia, SMK-PP, beberapa perguruan tinggi lainnya. Hadir pula dosen dan perwakilan perusahaan seperti Greenfield, Nestle, Astra Agro.

HMJ-Peternakan-Polbangtan-Malang.jpg

Menurut Plt Direktur Polbangtan Malang, Dr Bambang Sudarmanto, tema webinar ini cukup bagus karena terkait dengan masa depan peternakan sapi perah di tangan generasi milenial.

“Masa depan kita sekarang ini nantinya di semua sektor ada di tangan generasi muda atau kaum milenial,” ujar Bambang dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, kebutuhan susu di Indonesia  bisa mencapai 4,3 juta ton per tahun. Sementara produk susu nasional belum sampai 1 juta ton per tahunnya. Sehingga kontribusi dari susu nasional terhadap kebutuhan susu nasional baru sekitar 22%. Dan untuk mencukupinya masih impor.

“Dari 1 juta ton per tahunnya hampir 60 persen dari wilayah Jawa Timur,” imbuhnya.

Berkaca pada hal itu, Bambang berharap melalui webinar ini bisa diketahui secara jelas kesulita yang terjadi ketika pemerintah ingin meningkatkan produksi sapi perah nasional.

“Berbicara dari daging ayam dan telur kita sudah bisa berswasembada, namun untuk daging sapi kita belum bisa,” tuturnya.

Poster-Webinar-Masa-Depan-Peternakan-Sapi-Perah-di-Tangan-Generasi-Milenial.jpg

Bambang menyebut swasembada susu, daging sapi, dan produk pertanian lainnya yang kini masih impor sebagai tantangan bersama.

Ia pun membandingkan tingkat konsumsi susu sapi di Indonesia dengan negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei, dan Vietnam.

Tingkat konsumsi di Indonesia per tahun sekitar 16 liter atau 16 kg per kapita per tahun. Sedangkan Vietnam sudah 20 kg, Malaysia sekitar 50 kg per tahun. “Apalagi Brunei sudah 130 kilogram,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan tantangan yang dihadapi generasi milenial terhadap masa depan peternakan sapi perah nasional. “Ini adalah tantangan kita semua terutama pada generasi milenial saat ini,” ucapnya.

Sementara itu, menurut Head of Milk Procurement & Diary Development Department PT. Nestle Indonesia, Ida Royani, potensi generasi milenial akan luar biasa bila produktif.

Ia mengatakan, berdasarkan sensus penduduk tahun 2020, jumlah milenial di Indonesia sekitar 69,9 juta jiwa. “Ini luar biasa yang tentunya menjadi potensi apabila semuanya tampil produktif,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, ia mengatakan bahwa PT. Nestle sangat peduli terhadap para peternak dengan mengadakan pembinaan, mulai dari pakan, kebersihan kandang sampai siap panen.

PT. Nestle juga mensubsidi peralatan yang diperlukan agar para peternak bisa mengembangkan usahanya ke arah lebih baik.

“Semua dibina oleh PT. Nestle,” kata Ida Royani saat menjadi narasumber webinar “Masa Depan Peternakan Sapi Perah di Tangan Generasi Milenial” yang diselenggarakan oleh HMJ Peternakan Polbangtan Malang. (*)


Sumber :

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/328304/ketika-peternakan-sapi-perah-nasional-di-tangan-generasi-milenial#.YCzzL74EdC8.whatsapp

Leave a Reply