| Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |   | Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |

Lulus Kuliah Langsung Berwirausaha Ayam Kampung, Omzet Terus Melambung

Lulus Kuliah Langsung Berwirausaha Ayam Kampung, Omzet Terus Melambung

Sosok sarjana tak selalu identik harus bekerja di kantor ternama, bahkan pulang kampung pasca lulus kuliah pun bagi Mohamad Sui Saputra (23 tahun) menjadi sesuatu yang sangat didamba sejak lama.

Pemuda asal kelahiran Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengaku bangga menyandang gelar sarjana bidang pertanian dan memilih berkarya dikampung halaman tepatnya di Desa Teruwai, Kecamatan Pucut Kabupaten Lombok tengah dengan berwirausaha ayam kampung.

wirausaha-Ayam-Kampung-2.jpg

Su’i membulatkan tekad berwirausaha ayam kampung karena bermodal pengalaman wirausaha selama masih kuliah di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, yakni berjualan ayam geprek dihari libur kuliah sampai mendapat omzet Rp 800 ribu sampai dengan Rp 1 juta rupiah per hari. Dengan pengalaman itu, Su’i nekat mengajukan diri berkompetisi untuk mendapatkan program fasilitasi dari Kementerian Pertanian (Kementan) menggagas usaha budidaya dan pengolahan ayam kampung.

Proposal diterima dan mendapat stimulus modal Rp 35 juta yang diberikan oleh Kementan melalui program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), Su’imemulai usaha budidaya ternak ayam kampung. Awalnya, sarjana pertanian ini mendatangkan DOC (Day Old Chicken)  sebanyak 250 ekor ayam KUB dan 250 ekor ayam arab.

“Dalam 100 ekor, dibutuhkan modal atau biaya sebesar 1,070 juta termasuk bibit, pakan dan vaksin. Dipelihara selama 55 hari untuk ayam KUB dan 40 hari untuk ayam arab,” ujar Su’i penuh semangat.

Menurutnya, pelanggan atau pembelinya rata-rata mencari ayam dengan bobot 4,7 – 5,5 ons per ekor. Permintaan bisa mencapai 40 ekor per hari dengan pengiriman mulai dari kota Lombok sampai ke Bali. Ia mematok harga mulai Rp 30-50rb per ekor dengan spesifikasi ayam kampung utuh yang sudah dipanggang.

“Saya memanfaatkan media online untuk memasarkan ayam panggang, omzet penjualan tertinggi sampai dengan 10 juta per hari,” tutur Su’i anak dari pasangan Ibu Serinah dan Bapak Mawardi dari Lombok Tengah ini.

Acapkali tawaran dari pengusaha restoran berdatangan dengan jumlah order dan harga yang cukup menggiurkan. Namun, ia mengaku ingin tetap realistis menyesuaikan kondisi stok ayam kampung yang dimilikinya.

Peluang bisnis ayam kampung ini semakin hari semakin menarik, membuat usaha Su’i semakin dituntut berkembang untuk menjalin kemitraan dengan peternak sekitar. Melalui kelompok usahanya yang dinamakan “Sapoq Angen” ini bersama temannya Iksan Wahyudi, ia mulai merintis pola kemitraan Yarnen (bayar setelah panen) yang merupakan kolaborasi dengan produsen DOC lokal UD. FT, Lombok. Kemitraan mengandeng 4 orang peternak, dengan 2000 ekor ayam KUB dan ayam arab. Sementara, Su’i berperan membuatkan SOP (Standart Operasional Prosedur) budidaya dan pendampingan sampai panen, sekaligus juga sebagi avails pasarnya.

“Pola Kemitraan ini sebagai jawaban untuk merespon permintaan pasar ayam kampung yang semakin melambung. Panen hasil kemitraan ini diperkirakan setelah lebaran idul fitri nanti,” kata Sui dengan nada optimistis.

Hidup dan berwirausaha di kampung halaman bagi Su’i tentu memberi sensasi tersendiri, karena disamping bisa membuka lapangan kerja bagi warga desa sekitarnya, ia juga mengaku bisa memerankan diri dalam kegiatan sosial kemasyarakatan diantaranya turut mengajari anak-anak mengaji  setiap malam di masjid dekat rumahnya.

Langkah Su’i ini sejalan dengan seruan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan RI Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, yang mengatakan bahwa generasi muda atau yang saat ini bisa disebut pemuda milenial menjadi penentu kemajuan pertanian di masa depan.

Estafet petani selanjutnya adalah pada pundak generasi muda, mereka mempunyai inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian. “Dibutuhkan sekelompok anak muda yang memiliki loyalitas dan integritas untuk memajukan pertanian Indonesia secara modern dan berorientasi ekspor agar Indonesia menjadi negara agraris yang mandiri pangan,” ujarnya.

Menteri Pertanian RI, Syahril Yasin Limpo, melalui kegiatan PWMP mengharapkan generasi milenial berani menjadi seorang petani atau mendirikan start up di bidang pertanian. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil dimana kaum milenial saat ini mulai sadar bahwa pertanian adalah tambang emas tanpa batas jangka Panjang.

Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) juga menjadi program andalan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam rangka regenerasi petani. Ke depan, generasi muda pertanian bukanlah pekerja bidang pertanian, tetapi menjadi pelaku usaha pertanian. Regenerasi petani menjadi hal yang penting dan utama sekarang ini. (*)


Sumber :

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/269431/lulus-kuliah-langsung-berwirausaha-ayam-kampung-omzet-terus-melambung

Leave a Reply