| Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |   | Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |

Mensubstitusi Nutrisi Kelor Pada Jajanan Lokal

MENSUBSTITUSI NUTRISI KELOR PADA JAJANAN LOKAL

Oleh : Abdus Salim*)

 

Riset tentang kandungan dan   manfaat kelor di dunia internasional sudah selesai, ini ditunjukkan oleh fakta bahwa ada banyak penelitian tentang kelor yang benar-benar bisa menyelesaikan problem khususnya kesehatan karena kandungan gizinya yang sangat luar biasa.  Bahkan saat ini sudah mulai banyak dijumpai daun kelor tersedia dan dijual dalam bentuk ikatan-ikatan daun segar  dibeberapa titik lokasi di pasar tradisional, harga cuma Rp. 2 ribu per ikat. Ini tentu bisa diartikan bahwa masyarakat sudah mulai mengerti manfaatnya.

Namun demikian, mestinya mengedukasi dan mengenalkan masyarakat tentang kelor tidak berhenti sampai disitu. Haruslah ada aksi dan terobosan- terobosan yang cerdas dan berpihak agar lapisan masyarakat yang paling bawah sekalipun bisa merasakan dampak pemanfaatan kelor secara ekonomi, ekologi dan sosial sebagaimana yang telah diupayakan Polbangtan Malang melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berkolaborasi dengan beberapa institusi pemerintah khususnya Kecamatan Singosari,  Dinas  Pertanian Kabupaten Malang, Pemerintah Desa dan masyarakat untuk menginisiasi terbentuknya kampung kelor di Desa Wonorejo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Sinergi aksi seperti ini diharapkan bisa mendorong semangat warga untuk bergotong royong dan memunculkan inisiatif agar warga bisa memanfaatkan tanaman kelor secara lebih optimal dan komprehensif yang tentu diarahkan bisa berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di kampung kelor.

Hal yang menarik untuk direfleksikan dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilakukan oleh para Akademisi/Dosen dan Mahasiswa Polbangtan Malang di Kampung Kelor Ds. Wonorejo Keamatan Singosari Kabupaten Malang kali ini terkait komoditi kelor yaitu misinya untuk mensubstitusi nutrisi kelor pada jajanan lokal bernama sempol (bahan utama dari daging ayam dan telur, bumbu serta tapioka), jajanan ini terkenal disukai anak kecil dan biasanya dijajakan disekolah- sekolah  dan  berkeliling.  Harapannya dengan  menambahkan kelor  dalam  adonan yang diproses dari daun kelor segar yang diblender bisa meningkatkan kandungan nutrisi sari jajanan lokal atau sempol ini. Sehingga asupan nutrisinya bisa lebih baik terutama  jika  dikonsumsi  oleh  anak-anak  serta  bisa  menginspirasi  munculnya peluang usaha kuliner sehat berbasis kelor atau dengan mensubstitusi kelor pada jajanan lokal lainnya di kampung tersebut.

Tapi, Penulis mencoba menyampaikan ulasan kritis dari perspektif   subjektif dari  hal  diatas  kaitannya dengan  kelor  sebagai  salah  satu  unsur  pangan  bukan sekedar jajanan. Artinya bahwa daun kelor mengandung nutrisi paling lengkap dibanding dengan jenis apapun. Selain vitamin dan mineral, daun kelor juga mengandung semua asam amino esensial. Asam amino ini sangat vital sebagai pembentuk protein bagi tubuh. Pantas saja kelor disebut sebagi super food (makanan istimewa) dan hanya kelor yang memungkinkan bisa dibuat    murah karena menanamnya juga sangat mudah, bisa tetap tumbuh nyaris tanpa perawatan dan bisa panen pada umur yang cukup singkat. Oleh karena itu kelor sebagai super food ini mestinya harus diupayakan:

  1. 1. Bagaimana agar si “super food” kelor, tidak di down grade lagi dengan cara mensubstitusikannya kepada jajanan yang diproses melalui pemanasan yang berlebih agar kandungan nutrisinya tidak peca Bahkan jika ingin ideal, perlu pembuktian ilmiah untuk menjustifikasi apakah dg penambahan kelor pada  sempol  maka  otomatis  kandungan  nutrisinya berbeda cukup signifikan? atau malah tak ada bedanya dengan sayur lain, baik tektur/warna, rasa dan juga harga.
  2. 2. Mengapa tidak  mengidentifikasi jajanan  lokal  lain  yang  lebih  eksis  di

masyarakat desa tersebut baik secara bisnis atau proses olahannya?, (semisal; Opak-opak Kelor). Karena berdasarkan penelusuran dan pengamatan Penulis jajanan ini sudah cukup populer dan prosesnya pun dengan cara dioven atau tidak di goreng. Sehingga nilai tambah secara ekonomi akan cepat terkoneksi kepada warga yang sudah punya eksisting produksi dan nutrisi kelor yang disubstitusikan pada jajanan opak-opak ini akan lebih terproteksi. Apalagi bahan yang dari kelor  ini  lebih dahulu dikonversi ke powder/serbuk melalui prosesing yang terstandart.

  1. 3. Terobosan lainnya yang lebih milenial perlu dilakukan oleh Polbangtan Malang melalui laboratorium yang ada, agar penelitian dan kegiatan praktikum olahan hasil pertanian tidak hanya berkutat seputar meracik rasa dan warna makanan atau test organoleptik saja. Tapi lebih ke arah bagaimana mampu memformulasi makanan atau bahkan merekayasa pangan yang bernutrisi tinggi. Karena kalau hanya seputar “test organoleptik” itu sudah bisa dilakukan oleh seorang ”Chef”.
  2. . Merancang produk yang premium untuk membidik segmen pasar yang memiliki daya beli tinggi. Sempol kelor yang dimaksud secara program cukup idealis karena punya misi memasukkan nutrisi pada jajanan lokal yang digemari kebanyakan anak kecil yang terkenal murah meriah dan bernutrisi renda Tapi secara bisnis (dampak ekonomi), produk pastinya akan sulit bersaing dipasar baik rasa atau harga, masih perlu kerja keras untuk itu.   Kecuali,  diorientasikan  membidik  pasar   premium  (misal: sempol moringa premium) dibuat  dengan bahan yang berkualitas dan performa yang high class.Begitulah, seharusnya kegiatan pengabdian masyarakat itu digelar, dirancang secara sungguh-sungguh dan terukur sejak perencanaan sampai dengan  outputnya.   Harus  dilakukan  karena  panggilan  juga  disadari sebagai tanggungjawab moral insan pendidikan, serta mengupayakan bagaimana mempertajam program agar bisa langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bukan semata dilakukan  untuk sebuah target serapan anggaran apalagi digelar hanya demi untuk merealisasikan pertanggungjawaban dari sebuah pelaporan kegiatan. Ruang perdebatan tentang bagaimana mempertajam output sebuah kegiatan ini sudah saatnya dibuka tanpa lagi ada sikap resistensi.Mengabdi, mengabdi dan mengabdi!

Malang, 10 Januari 2019

*) Penulis adalah Staf Polbangtan Malang (Pegiat APMI / Asosiasi Petani Moringa Indonesia)

– Artikel ini setulusnya didekasikan untuk kejayaan Polbangtan Malang

 

Leave a Reply