| Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |   | Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |

Miranda, Petani Milenial ini Raup Untung dari Limbah ditengah Wabah

Miranda, Petani Milenial ini Raup Untung dari Limbah ditengah Wabah

Miranda Vivi Febriana (24th), akrab dipanggil Vivi adalah sosok milenial yang berani memilih terjun diusaha pertanian sejak lulus dari bangku kuliah tahun 2018.

Ketika itu ia langsung mengajukan diri untuk mendapat fasilitasi program dari Kementan untuk percepatan regenerasi petani melalui program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP).

Hanya dengan idenya yang sederhana, melihat peluang dikampungnya banyak para peternak ruminansia (sapi dan kambing), terbersit dalam pikirannya bagaimana ia bisa membantunya. Lalu ia mendirikan AMD Jaya shop dengan berjualan pakan ternak.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) meyakini usaha dan kredibilitas generasi muda di bidang pertanian saat ini semakin berkembang.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun dibidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar SYL.

Hal senada juga ditegaskan oleh Dedy Nursyamsi selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) yang merupakan penanggungjawab program Regenerasi Petani di Kementan, khususnya terkait Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) bahwa dimasa terjadinya wabah Covid-19 ini banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pengusaha pertanian milenial khususnya di bidang produksi on-farm (produksi).

“Dengan adanya teknologi saat ini Petani Pengusaha dapat  menggandeng tokoh masyarakat untuk promosi melalui e-commerce sehingga memperpendek rantai pasok,” tegas Dedi.

Setelah lulus dari Polbangtan Malang. Salah satu Perguruan Tinggi Vokasional Pertanian di lingkup Kementan, Vivi mengaku mendapatkan program PWMP dengan mendapat stimulus modal Rp 30 jt dari Kementan.

Meski secara psikologis diakui tidak mudah bagi Vivi berkiprah di kampung halamannya yaitu Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar pada saat lingkungan sosialnya menuntut anak muda yang lulusan perguruan tinggi bekerja di kota atau jadi pegawai kantoran.

Namun bagi Vivi, hal itu telah dijalaninya dengan bukti nyata selam 2 tahun terakhir. Selain membuka toko pakan ternak, ia juga mencoba mengolah limbah berupa ablok jagung/slamper jagung atau jenjet jagung yang ia dapatkan dari pabrik olahan pakan yang dibuang, ternyata oleh Vivi limbah tersebut berhasil dikenalkan kepada peternak sebagai bahan campuran pakan yang bagus untuk sapi.

“Ablok jagung ini limbah dari penyelipan jagung yang langsung dari pabrik, dibuat campuran pakan oleh peternak, murah dan mudah didapat, sapi pun jadi lahap makannya,” jelas Vivi.

Selain itu, ia juga menyediakan konsentrat, katul, jagung, menir jagung, kulit kedelai, kulit kacang ijo, tumpi jagung, kangkung, pollar, 511, mineral, premik, pakan kelinci dan obat-obatan ternak lainnya.

“Saya mengambil konsentrat dari home industri lalu menjualnya dan saya menjadi agennya dengan pengambilan konsentrat 1 rit (truk) sekitar 6-8 ton per bulan,” tutur Vivi.

Berdasarkan data saat ini kita memiliki 33,4 juta petani. Sejumlah 30,4 atau sekitar 91% adalah petani berusia tua. Hanya 2,5 juta atau sekitar 9%, yang merupakan petani milenial.

Terlebih dalam menghadapi situasi ditengah wabah Covid-19 ini, Dedi menegaskan pertanian merupakan garda terdepan. Untuk itu dirasa perlu pelopor pertanian yang diharapkan membuat jejaring usaha pertanian untuk menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian. Selain sebagai penghela peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian serta produktivitas lahan dan komoditas.

Sebagai sarjana pertanian yang memilih menjadi wirausahawan dibidang peternakan, bagi Vivi ini sama halnya juga sebagai penyedia pangan.

Pasalnya, yang ia layani keseharian mulai pagi sampai sore adalah para peternak yang membutuhkan pakan untuk ternaknya. Sementara para peternak tersebut berperan sebagai penyedia pangan berupa sumber protein hewani (daging).

Saat ini, Vivi sudah mampu memasarkan limbah (ablok jagung) dalam 1 minggu sebanyak 6-7 ton dan pasti habis. Musim apapun permintaan pelanggan tetap banyak. Ada sekitar 10-20 orang pelanggan setiap harinya yang datang mengambil bahan pakan ke tokonya. Omzet penjualannya saat ini sudah mencapai Rp 26 juta per bulan.

Menurutnya, agar ia bisa mempertahankan dan menambah omzet, kuncinya dalah melayani pelanggan dengan baik, telaten dan menerima kritik saran dengan lapang. Disamping itu yang lebih penting lagi menjaga mutu dan kualitas barang dengan mengatakan yang sesungguhnya.

“Yang namanya limbah tentu kualitasnya tidak mesti, bahkan datangnya juga sewaktu-waktu bisa pagi, siang atau malam. Hari ini kita dapat yang bagus tapi besok belum tentu, ini yang harus saya sampaikan pertama kepada pelanggan saya,” jelas Vivi.

Menurutnya, pengiriman limbah dari pabrik tergantung musim, jika sedang tidak musim panen jagung, maka limbah juga tidak full stock. Tapi kalau sedang musim jagung seperti saat ini, meski sedang ada wabah corona, stok limbah dari pabrik pasti banyak. Ini sebuah peluang yang bisa dibuktikan jadi uang oleh seorang Petani Milenial seperti Vivi, bagaimana menjadikan limbah bisa bernilai tambah.

Sebagai milenial, ia juga memanfaatkan keberadaan ekosistem digital dengan cara membuat online shop, sehingga bisa promosi melalui media social (Facebook dan Instagram), terutama dalam menyasar segmen peternak milenial. (*)


Sumber :

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/266933/miranda-petani-milenial-ini-raup-untung-dari-limbah-ditengah-wabah

Leave a Reply