| Pengumuman Hasil Tes CAT dan Ujian Wawancara Polbangtan 2019   | Tingkatkan Kualitas Calon Alumni Polbangtan Malang dengan Sertifikasi Kompetensi   | Seluruh ASN di Polbangtan Malang Dites Urine -

Pesona Kopi Amstirdam Memerlukan Sentuhan Penyuluh Swadaya

Pesona Kopi Amstirdam Memerlukan Sentuhan Penyuluh Swadaya

 

Kawasan Amstirdam (Ampelgading, Tirtoyudo, Sumbermanjing Wetan dan Dampit) merupakan penghasil kopi terbesa di Kabupaten Malang. Sejak jaman Belanda sudah dikenal sebagai penghasil kopi dengan brand Kopi Dampit. Brand ini sangat terkenal di pasar dunia khususnya Eropa karena memiliki kelebihan yang baik dan memiliki cita rasa yang khas.

Indonesia sendiri merupakan pengekspor kopi terbesar di kawasan ASEAN setelah Vietnam. Hal ini menunjukan bahwa potensi kopi di Indonesia sangat menjanjikan.

Perkembangan Kopi Dampit dari waktu ke waktu mengalami pasang surut sampai pada titik terendahnya, seperti yang disampaikan Jajang seorang penyuluh pertanian yang sudah melanglang buana dalam bidang perkopian.

“Petani kopi membongkar tanaman kopi diganti dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan, dikarenakan kopi sudah tidak menguntungkan, padahal untuk bisa menghasilkan kopi yang sangat baik memerlukan waktu bertahun-tahun,” tutur Jajang kepada penulis.

Pesona Kopi Dampit di wilayah Amstirdam lama kelamaan akan hilang dan hanya tinggal sejarah apabila tidak diperhatikan oleh berbagai stakeholder. Salah satunya pendampingan penyuluh yang harus dimaksimalkan.

Setiawan, seorang penyuluh pertanian di daerah Sumawe (Sumbermanjing Wetan) menyampaikan bahwa kondisinya penyuluh di kawasan Amstirdam sudah semakin berkurang. Sementara pengangkatan penyuluh baru tidak ada sama sekali, sehingga berdampak pada layanan penyuluh terhadap masyarakat. Padahal idealnya satu desa ada satu penyuluh.

Menyikapi jumlah penyuluh, ke depan harus ada pemberdayaan yang maksimal bagi para penyuluh swadaya. Keberadaan penyuluh swadaya akan melengkapi peran penyuluh PNS di desa-desa. Penyuluh swadaya akan bersinergi dengan penyuluh PNS maupun swasta dalam menyejahterakan petani.

Guru Besar Universitas Brawijaya Prof Sugiyanto menyampaikan bahwa penyuluh swadaya merupakan penyuluh masa depan yang akan bergerak paling depan dalam memberdayakan sesama petaninya di desa-desa. Namun para penyuluh swadaya harus dibekali kemampuan yang mumpuni, khususnya dalam menghadapi era digital revolusi industri 4.0.

Dalam kesempatan lain, Guru Besar Pemberdayaan Masyarakat UNS, Prof Ravik Karsidi menjelaskan bahwa kemampuan yang harus dimiliki penyuluh ke depan adalah kemampuan complex problem solving, social skill, process skill, system skill, dan cognitive abilities.

Raviq menjelaskan dalam Revolusi Industri 4.0 perlu memperkuat literasi humanistik (sebagai core bussiness) yang mampu menggali dan menguatkan nilai budaya, jati diri, identitas dan kebanggaan untuk meraih vitalitas yang maksimal sebagai bangsa yang lebih bermartabat.

Literasi human yaitu keterampilan kepemimpinan, bisa bekerja dalam tim, kelincahan dan kematangan berbudaya, inovasi dan entrepreneurship. Di era Revolusi Industri 4.0, literasi human (manusia) menjadi penting untuk bertahan di era ini, tujuannya agar manusia bisa berfungsi dengan baik di lingkungan manusia dan dapat memahami interaksi dengan sesama manusia.

Tantangan dalam pengembangan sistem diseminasi inovasi pertanian berbasis IT, dibutuhkan penyuluh yang mampu berperan sebagai: sumber informasi, fasilitator, motivator, dan pendamping kelembagaan lokal dan petani dalam akses informasi dan proses uji coba teknologi baru.

Di samping itu penyuluh juga sebagai penghubung dengan stakeholder terkait, di antaranya dalam bidang kopi adalah pengusaha cafe, barista,  para eksportir, dan pemerintah. Kelembagaan penyuluhan berperan sebagai motivator untuk peningkatan kapasitas penyuluh dalam pengelolaan atau pemanfaatan informasi berbasis IT.

Tantangan lainnya, dibutuhkan kelembagaan lokal berperan sebagai media forum, penyaring informasi, inovator pelaksana uji coba teknologi baru, sumber informasi terdekat yang valid, dan mutakhir. Serta sebagai penghubung dan pengembang jaringan komunikasi dengan stakeholders terkait pemasaran hasil pertanian.

Strategi implementasi sistem diseminasi inovasi pertanian berbasis IT dapat dilaksanakan dengan mengoptimalkan kelembagaan formal (penyuluh PNS) bersinergi dengan kelembagaan lokal yang digerakkan oleh penyuluh sawadaya.

Dahulu hanya dikenal satu jenis penyuluh pertanian, yaitu Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang diangkat oleh pemerintah. Namun, semenjak keluarnya Undang-Undang No.16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, telah dikenal tiga jenis penyuluh, yaitu penyuluh PNS, penyuluh swasta, dan penyuluh swadaya (petani).

Syahyuti menjelaskan bahwa penyuluh swadaya dapat disebut sebagai sosok yang lengkap. Jenis penyuluh ini melakukan kegiatan penyuluhan dengan motivasi sosial, pelayanan, namun sekaligus bisnis.

Banyak penyuluh swadaya yang memiliki bisnis berupa penyedia sarana produksi, serta menampung dan memasarkan hasil pertanian. Sehingga penyuluh swadaya sesungguhnya menyuluhkan teknologi baru kepada mitra bisnisnya sendiri. Jadi dalam prakteknya, sosok penyuluh PNS dan swasta saling konvergen dalam diri penyuluh swadaya.

Penyuluh swadaya bisa menjadi penyuluh masa depan seiring dengan kondisi jumlah penyuluh PNS semakin berkurang dan pengangkatan penyuluh baru semakin susah, sehingga peran penyuluh PNS di desa dapat dioptimalkan dengan hadirnya penyuluh swadaya yang melek teknologi informasi dan komunikasi.

Pada akhirnya kehadiran penyuluh di desa-desa dapat berperan sebagai media forum, penyaring informasi, inovator pelaksana uji coba teknologi baru, sumber informasi terdekat yang valid, dan mutakhir, serta sebagai penghubung dan pengembang jaringan komunikasi dengan stakeholders terkait pemasaran hasil pertanian maupun permodalan. (*)

 

*) Penulis: Andi Warnaen, SST, M.I.Kom; Dosen Polbangtan Malang

Leave a Reply