| Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |   | Selamat Datang di Zona Integritas Polbangtan Malang |

Tekuni Hidroponik yang Tak Dilirik, Kini Jadi Bisnis Menarik

Tekuni Hidroponik yang Tak Dilirik, Kini Jadi Bisnis Menarik

Siapa yang tak tergoda, jika selepas wisuda dapat tawaran bekerja di kota dengan gaji yang cukup tinggi atau malah bertemu peluang jadi pegawai negeri. Tentu tidak mudah menghindarinya, terutama bagi kebanyakan anak muda generasi milenial hal tersebut wajar jika menjadi pilihan rasional.

Tapi tidak demikian bagi Sirrun Najwa Azelia (23), perempuan lincah berkacamata dari Pacitan ini justru punya cita-cita berbeda. Sejak masih dibangku kuliah, ia sudah memiliki kepedulian yang kuat untuk bisa membantu petani di kampung halamannya di Desa Semanten, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan.

Hidroponik-Polbangtan-2.jpg

Anak ke dua dari pasangan Fauzan dan Siswati ini, mengaku telah menyiapkan konsep aktivitasnya sejak masih kuliah di Politeknik Pertanian Malang (Polbangtan) Malang. Hingga kini, setelah lulus baru ia bisa wujudkan setelah mendapatkan fasilitasi modal usaha dari Kementerian Pertanian melalui program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP).

Sirrun, merupakan salah satu dari sekian banyak generasi milenial yang terpilih menerima stimulus modal 35 juta dari Kementan untuk Percepatan Regenerasi Petani.

Bermula dari hal tersebut, ia semakin percaya diri merelisasikan  gagasannya dengan mendirikan WEPTA Farm yang merupakan kepanjangan dari Wahana Edukasi Peduli Petani, usahanya ini dimulai dengan membuat sistem pertanian hidroponik untuk budidaya sayuran.

“Melihat produk sayur pasar tradisional khususnya di Pacitan masih saya jumpai kualitas yang rendah, layu dan banyak yang belum bebas dari pestisida. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa WEPTA Farm harus ada,” ujar Sirrun.

Hidroponik-Polbangtan-3.jpg

Sedari awal menggagas, lalu dengan modal yang ada bersama 2 rekannya pemuda tani ia tak pernah membayangkan bagaimana cara memasarkan produknya nanti, bahkan dirinya sempat ragu apakah produk hidroponiknya bisa laku dan diterima pasar.

Alhasil, dalam satu kali siklus produksi dengan populasi sekitar 300 lubang tanam, Sirrun bisa membuktikan panen sayur hidroponik dengan hasil yang bagus. Ada selada keriting, sawi daging (pakcoy), sawi caisin, bayam merah merupakan jenis sayuran yang ternyata sangat diminati oleh costumer lokal.

“Saat ini saya sudah punya pelanggan ibu-ibu rumah tangga, ada juga penjual burger yang sudah menunggu jadwal panen. Sebagian dari mereka datang untuk mengambil pesanannya dengan petik sendiri, tapi ada juga pesanan costumer yang saya antar langsung,” ujar gadis yang merupakan sarjana pertanian alumni Polbangtan Malang ini.

Semakin bertambahnya costumer produk hidroponik WEPTA Farm milik Sirrun ini hal yang wajar karena testimoni dari para pelanggannya mengaku bahwa produk sayur hidroponik ini lebih segar, awet dan tidak mudah layu serta bebas pestisida.

Bahkan harganya pun sangat kompetitif dibanding sayur daun di pasar tradisional Minulyo Pacitan yang rerata disuply dari luar kota, Plaosan, Sarangan, Magetan bahkan dari Karang Anyar Jawa Tengah. Sehingga, selain sudah cenderung tidak segar juga harganya pun jadi mahal.

Seperti halnya selada keriting bisa tembus 24 rb rupiah per kilo. Sementara WEPTA Farm hanya membrandol 22rb rupiah sampai diterima end costumer, bisa juga melayani pesanan secara online.

Menurut Sirrun, selama 6 bulan berjalan memulai usaha hidroponiknya ini, ia masih ingin fokus untuk mempertahankan kontinuitas produksi dan mengatur pola tanam agar setiap minggu selalu bisa panen dengan target keuntungan Rp20 ribu dari omzet penjualan per minggu, sembari merancang perluasan instalasinya.

Namun, dirinya juga tidak ingin menyia-nyiakan peluang lain yang muncul diperjalanan merintis usaha hidroponiknya. Sehingga ia juga merambah usaha jual beli bahan dan peralatan hidroponik untuk melayani kebutuhan warga sekitar yang mulai tertarik budidaya tanaman dengan sistem hidroponik.

“Ini yang membuat saya awalnya ragu, tapi akhirnya bikin senang juga dan ternyata bagi saya bertani secara hidroponik ini semakin menarik,” pungkas Pengusaha tani milenial yang juga guru pembantu disebuah TPA di Pacitan ini.

Langkah Sirrun ini, sejalan dengan harapan Menteri Pertanian bahwa generasi milenial harus berani menjadi seorang petani atau mendirikan start up di bidang pertanian. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil, dimana kaum milenial saat ini mulai sadar bahwa pertanian adalah tambang emas tanpa batas jangka panjang.

“Ke depan, generasi muda pertanian bukanlah pekerja bidang pertanian, tetapi menjadi pelaku usaha pertanian. Regenerasi petani menjadi hal yang penting dan utama sekarang ini,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, dikutip keterangan tertulis, Senin, 11 Mei 2020.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan, dibutuhkan sekelompok anak muda yang memiliki loyalitas dan integritas untuk memajukan pertanian Indonesia.

“Sudah saatnya pertanian dikelola oleh generasi milenial yang menggunakan kreativitas dan inovasinya, sehingga pertanian ke depan menjadi pertanian modern yang tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, tetapi juga berorientasi ekspor. Saat ini kita telah memiliki banyak petani milenial sekaligus enterpreneur di bidang pertanian,” ucap Dedi. (*)


Sumber :

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/270931/tekuni-hidroponik-yang-tak-dilirik-kini-jadi-bisnis-menarik

Leave a Reply