Petani Kapuas Hulu Mulai Beralih ke Drone, Pertanian Masuki Era Baru

44

Kapuas Hulu – Perlahan namun pasti, wajah pertanian di Kapuas Hulu mulai berubah. Jika selama ini petani mengandalkan cara-cara manual, kini teknologi drone hadir membawa harapan baru dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas di lahan pertanian.

Perubahan tersebut tampak dalam kegiatan pendampingan pengoperasian drone pertanian yang dilakukan di sejumlah titik Brigade Pangan di Kabupaten Kapuas Hulu. Program ini merupakan bagian dari dukungan Kementerian Pertanian melalui skema Cetak Sawah Rakyat (CSR), yang mendorong modernisasi pertanian di berbagai daerah.

Melalui kolaborasi antara Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang dan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, para petani—khususnya anggota Brigade Pangan—tidak hanya dikenalkan pada teknologi baru, tetapi juga dilatih secara langsung untuk mengoperasikannya.

Di lapangan, para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi. Mereka belajar mengendalikan drone untuk menyemprot pupuk dan pestisida cair, menebarkan benih dan pupuk padat, hingga memahami teknis pengoperasian, mulai dari penggantian tabung hingga pengaturan penerbangan, baik secara manual maupun otomatis.

Petani di Kapuas Hulu

Direktur Polbangtan Malang, Setya Budhi Udrayana, menilai bahwa pemanfaatan teknologi menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan pertanian modern.
“Penggunaan drone pertanian ini merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi sekaligus ketepatan dalam kegiatan budidaya. Kami berharap Brigade Pangan mampu menguasai teknologi ini agar produktivitas meningkat dan biaya produksi dapat ditekan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala BBPP Batu sekaligus Penanggung Jawab Brigade Pangan Kalimantan Barat, Ugik Rohmadi. Ia menekankan pentingnya sinergi dalam mempercepat adopsi teknologi di tingkat petani.
“Dalam upaya percepatan tanam di lokasi Cetak Sawah Rakyat, BBPP Batu berkolaborasi dengan Polbangtan Malang untuk mengoptimalkan pendampingan operator drone. Ini menjadi bentuk nyata dukungan Kementerian Pertanian dalam mendorong pertanian modern di daerah,” katanya.

Bagi petani di Kapuas Hulu, kehadiran teknologi ini bukan sekadar inovasi, tetapi juga solusi atas tantangan di lapangan. Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Kapuas Hulu, Saparin, mengungkapkan bahwa luasnya lahan menjadi salah satu kendala utama.

“Kami menyambut baik pendampingan ini, karena luas lahan CSR di Kapuas Hulu mencapai sekitar 480 hektare. Jika masih mengandalkan cara manual, akan sulit untuk mengelola seluruh lahan secara optimal,” ujarnya.

Ia menambahkan, ke depan pihaknya akan terus memantau perkembangan kemampuan operator drone agar teknologi tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Pendampingan ini dilakukan di dua lokasi Brigade Pangan, yakni Brigade Pangan Uyan Bersinar di Kecamatan Seberuang dan Brigade Pangan Sukamaju Bahagia di Desa Sukamaju. Kedua lokasi ini menjadi titik awal penerapan teknologi pertanian presisi di wilayah Kapuas Hulu.

Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pertanian tidak lagi identik dengan cara-cara konvensional. Dengan dukungan teknologi dan pendampingan yang tepat, petani di daerah pun kini mulai melangkah menuju pertanian yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. (*)