Hadapi Kemarau Panjang, Polbangtan Malang dan DPR RI Siapkan Petani Bali

157

BALI – Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan perhatian besar kepada seluruh penyuluh pertanian.

“Penyuluh pertanian adalah ujung tombak pembangunan pertanian di lapangan yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” ujar Mentan Amran.

Mengingat betapa pentingnya peran penyuluh pertanian, Kementan terus melakukan peningkatan kompetensi bagi penyuluh pertanian. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa penyuluh pertanian berperan sebagai jembatan vital antara petani dengan informasi teknis, inovasi, dan praktik pertanian terbaru yang dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Mereka juga berperan dalam memfasilitasi adopsi teknologi pertanian yang berkelanjutan.

Petani-Bali-dengan-Bimtek-2.jpg

“Penyuluh pertanian memiliki tugas dan fungsi penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Seorang penyuluh harus bisa menjadi motivator, inovator, fasilitator, serta motor penggerak agribisnis pertanian,” tegas Dedi.

Menindaklanjuti instruksi Mentan, Politeknik Pembangunan Pertanian Malang (Polbangtan Malang) sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPPSDMP, bekerja sama dengan Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) peningkatan kapasitas bagi petani dan penyuluh pertanian.

Sekitar 100 petani dan penyuluh pertanian Kabupaten Tabanan, Bali, mengikuti Bimbingan Teknis yang bertempat di Apple Resort Tanah Lot, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (29/5/2024).

Anggota Komisi IV DPR RI, I Made Urip, mengatakan bahwa salah satu upaya antisipasi dan adaptasi El-Nino di sektor pertanian adalah dengan melakukan identifikasi dan pemetaan lokasi terdampak kekeringan, serta mengelompokkan menjadi daerah merah, kuning, dan hijau. Dengan adanya pengelompokan wilayah terdampak, akan lebih mudah menyusun strategi yang tepat dan efisien.

Lebih lanjut, Made Urip menyatakan bahwa program-program untuk menghadapi dampak El-Nino mencakup peningkatan sumber daya manusia pertanian, membangun mindset/agenda intelektual dengan memadukan ilmu pengetahuan, ilmu lapangan, dan ilmu makrifat, serta memperbaiki sistem budidaya, pasca panen, dan manajemen usaha.

Bimtek ini sangat tepat untuk memberikan wawasan bagaimana pertanian dari hulu ke hilir bisa digarap dengan baik. Made Urip juga berharap agar Bimtek bisa diikuti dari awal hingga akhir, karena hal ini penting untuk memecahkan persoalan serta mencari solusi terbaik dalam bidang pertanian. Pengalaman dari pandemi COVID-19 yang lalu, yang telah melumpuhkan sektor pariwisata, menunjukkan bahwa sektor pertanian mampu menjadi penyelamat perekonomian masyarakat di Bali.

“Sektor pangan ini sangat strategis untuk menjaga stabilitas negara. Oleh karena itu, saya berharap agar Bimtek ini diikuti dengan baik dan disiplin dari awal hingga akhir,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Polbangtan Malang yang diwakili oleh Wakil Direktur Bidang Akademik Novita Dewi Kristanti mengatakan bahwa perubahan-perubahan sudah dialami oleh dunia dari tahun ke tahun.

Teknologi berkembang cukup pesat, termasuk di sektor pertanian. Efektivitas penerapan teknologi pertanian dipengaruhi oleh pemahaman dan kemauan petani dalam memanfaatkan dan menyerap inovasi pertanian hingga distribusi hasil pertanian. Sehingga salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas SDM adalah dengan diadakan bimtek bagi petani dan penyuluh.

“Setiap perubahan di sektor pertanian menjadi tantangan ke depan. Oleh karena itu, kegiatan bimtek menjadi salah satu antisipasi menghadapi tantangan teknologi pertanian saat ini, khususnya bagi para petani muda. Kegiatan bimtek ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kapasitas petani muda agar mampu menghadapi tantangan di sektor pertanian masa depan,” ujarnya.

Menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia akan mengalami musim kemarau yang berkepanjangan pada tahun 2024, yang diperkirakan akan memberikan dampak signifikan pada sektor pertanian. Peningkatan suhu yang ekstrem dan pola curah hujan yang tidak teratur akan menjadi tantangan serius bagi para petani dan produksi pertanian. Dalam kondisi kemarau yang berkepanjangan, tanaman rentan mengalami stres panas dan kekeringan.

Untuk menghadapi tantangan ini, para petani di Indonesia harus beradaptasi dengan perubahan iklim yang semakin ekstrem. Adaptasi ini termasuk penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap panas dan kekeringan, pemanfaatan teknologi irigasi yang efisien, serta praktik pertanian berkelanjutan untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

Perubahan iklim adalah masalah global yang memerlukan mitigasi untuk mengurangi dampak kemarau panjang yang diduga akan terjadi di Indonesia. Antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya kekeringan yang berdampak pada pertanian telah menjadi instruksi Menteri Pertanian kepada seluruh jajaran Kementerian Pertanian untuk mengarahkan pemikiran dan sumber daya guna menghadapi El-Nino, menjaga ketahanan pangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Keberhasilan menjaga ketahanan pangan nasional tidak terlepas dari peran seluruh insan pertanian, termasuk penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian memainkan peran penting dalam pembangunan pertanian berkelanjutan, Novita melanjutkan.

Peningkatan kapasitas SDM pertanian dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim juga menjadi prioritas program Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan. Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Made Subagia, menyampaikan bahwa pihaknya sangat berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan Bimtek ini untuk meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh pertanian di Tabanan.

“Dibutuhkan SDM yang handal untuk mendampingi para petani dalam menyiapkan ketersediaan pangan dan agar bisa beralih kepada para petani muda di masa depan.”

Dalam Bimtek ini, para peserta diajarkan berbagai strategi dan teknik pemasaran yang inovatif dan efektif untuk produk-produk pertanian. Materi yang diajarkan mencakup penggunaan teknologi digital, pemasaran online, branding produk, serta manajemen rantai pasokan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya saing produk pertanian di pasar domestik maupun internasional.

Mereka juga diperkenalkan pada beragam peluang dan profesi di sektor pertanian yang tidak hanya berkutat pada pekerjaan lapangan seperti bertani atau mencangkul, tetapi juga mencakup manajemen, teknologi, riset, dan inovasi.